Tags

, , , , , ,

Asia Hemisfer Baru Dunia merupakan salah satu buku karangan Kishore Mahbubani, dimana dalam buku ini penulis memberi kita sebuah paparan yang sangat meyakinkan tentang dunia. Kishore Mahbubani juga memberikan analisis yang tajam tentang implikasi-implikasi jangka panjang dalam perubahan yang terjadi di pusat gravitasi global. Image

I.       Tiga Skenario Besar

Pada tanggal 30/12/2006 surat kabar Singapura the straits times  melaporkan bahwa sebuah partai besar di Provinsi Tamil Nadu, India Selatan, Dravida Munnetra Kazhagam (DMK), dalam upayanya meraih suara menjanjikan untuk membagikan televisi berwarna secara gratis. Apa yang luar biasa dari kisah seorang politisi Tamil yang membagi TV secara gratis,coba kita ganti kata “Tamil” dengan “palestina”. Sebuah cerita tentang politisi palestina yang membagikan TV tentu akan mengherankan karena kondisi politik Palestina berkelindan antara kekerasan dan konflik. Palestina yang duduk di bawah pendudukan Israel mempunyai lebih banyak isu-isu mendasar yang bisa dipersoalkan. Provinsi Tamil Nadu sedang bergerak dalam arah yang sama dengan banyak kawasan Asia lainnya. India dianugerahi banyak kelompok etnik yang unggul dan berbakat. Ini hanyalah salah satu contoh yang menyoroti salah satu tema kunci dari buku Kishore Mahbubani ini, bahwa Asia sedang naik daun karena bagitu banyak pikiran2 Asia, setelah terkubur berabad-abad sekarang meledak dengan kreativitasnya. Pada bab ini menawarkan tiga kemungkinan skenario tentang bagaimana perkembangan dunia 50 tahun ke depan. Masing2 skenario adalah ekstrapolasi dari kecenderungan/tren yang mengemuka, skenario tersebut adalah :

  1. March to Modernity (berderap menuju modedrnitas)
  2. Retreat Into Fortresses (kembali ke benteng)
  3. Westernisasi Dunia

March to Modernity

Skenario yang pertama ini mungkin menjadi satu-satunya perjalanan yang paling penting dalam sejarah manusia, modernitas merupakan suatu pemikiran yang asing. Di Barat, aspek yang lebih mendasar dari modernitas/kehidupan modern sudah diterima begitu saja. Modernitas sering diasosiasikan dengan aliran seni atau budaya, lukisan modern dikaitkan dengan Picasso, sastra modern dengan James Joyce, gaya hidup modern dengan vanity fair. Jadi modernitas merepresentasikan setidaknya cara pikir Amerika, akan tetapi hal ini bukanlah March to Modernity yang dicita-citakan orang sekarang. Keutamaan modernitas bukanlah murni material, sekalipun perolehan materi itu penting, tempat tinggal yang berdesakan, air dan listrik, terasa ada ledakan psikologis yang hebat ketika mereka mendapatkan akses untuk itu, misalnya pada buku ini Kishore mencontohkannya pada kasus India, dimana lebih dari 390 juta rakyatnya masih hidup dengan 1 dollar AS sehari atau kurang. Akan tetapi menurut The National Council for Applied Economic Research, yakni lembaga pengumpulan data di India, sebanyak 700 juta penduduk pedesaan India sekarang tercatat membelanjakan uangnya paling banyak di negara itu yakni lebih dari 100 milliar dollar AS setahun. Hal ini merupakan dampak liberalisasi yang mulai berlaku tahun 1991 (dimana dampaknya pada kota2 kecil dan pedesaan terjadi sekarang).[1] Jadi March to Modernity akan melahirkan dunia universal yang lebih etis dalam beberapa hal. Pertama pengentasan dari kondisi kemiskinan yang melindas pada dasarnya diinginkan secara moral, banyak orang lalu fokus pada keuntungan materi. Kedua, masyarakat diuntungkan ketika penduduknya terentaskan dari kemiskinan, angka kejahatan menurun, mutu kesehatan meningkat, angka kematian bayi berkurang, angka harapan hidup naik dan mutu pendidikan naik.

Hasil etis yang paling penting dari March to Modernity adalah suatu dunia yang lebih stabil dan damai, dasar alasan mengapa negara2 Amerika Utara dan Eropa tidak berperang lagi di antara mereka sendiri adalah begitu hebatnya kelas menegah yang tidak ingin mengorbankan terlalu banyak kenikmatan hidupnya. Ketika istilah “modernisasi” mulai tidak digemari di Barat, di China justru suedang kuat-kuatnya. Orang China hati2 sekali mengukur sukses relatif mereka dalam istilah modernisasi. Untuk mengukur tingkat modernisasi negara dan wilayah provinsinya, China menerapkan modernisasi dengan angka industrialisasi dan urbanisasi serta modernisasi yang dicirikan cara untuk menggambarkan dampak manusiawi dari modernisasi adalah dampak salah satu peralatan modern terhadap India, yaitu ponsel. Ponsel/telepon selular betul2 sudah merevolusi India. Tahun 2006, untuk pertama kali, 7 juta orang India menjadi pelanggan baru dalam sebulan (rekor dunia).[2] Tersebar luasnya penggunaan ponsel di India memperlihatkan betapa besar cara berpikir orang India tentang alat komunikasi modern. Ketika India akhirnya melompat dari 8 juta orang yang terkoneksi telepon di tahun 1990-an menjadi lebih dari 500 juta orang pengguna ponsel di tahun 2010, dunia memang telah berubah. China juga tidak diragukan lagi mencatatkan angka yang sama, sebagai tambahan ada 1 milliar orang Asia lainnya di luar China dan India yang akan bergabung dengan revolusi ponsel ini. Hal ini berarti dalam waktu 2 dekade, lebih dari 1 milliar sampai 1,5 milliar orang yang terhubung dengan dunia modern. Inilah skala dari March to Modernity di Asia.

Retreat Into Fortresses

Arah sejarah dunia akan ditentukan oleh bagaimana Barat bereaksi pada March to Modernity Asia ini. Yang jelas, Barat hanya punya dua alternatif pilihan : menerima dan mengakui semakin tersebarnya modernisasi dan terus bekerja sama dengan Asia menuju dunia yang lebih terbuka atau sebaliknya merasa semakin terancam oleh kisah sukses Asia dan mulai mundur ke dalam benteng2 mereka sendiri secara politik dan ekonomi. Ketika Barat untuk pertama kali mendesakkan perlunya perdagangan bebas pada negara2 Asia, usulan itu diterima dengan skeptis. Namun sukses besar ekonomi Jepang dan macan Asia lainnya, pada akhirnya meyakinkan negara2 Asia bahwa mereka harus mengikuti jalan ini, sebagai hasilnya di abad ke-21 ini dunia memiliki suatu sistem perdagangan yang paling terbuka. Negara2 yang telah menerima perdagangan terbuka mendapat manfaat besar, menurut sebuah kajian dari Institute for International Economics (IIE), pendapatan tahunan AS adalah 1 trilliun dollar lebih tinggi atau 9000 dollar AS per kepala keluarga sebagai hasil dari liberalisasi perdagangan sejak 1945. Semua putaran perdagangan telah mencapai konklusi2 yang berhasil karena penjaga utama sistem perdagangan global yang terbuka, AS dan Eropa melihatnya sebagai kepentingan mereka yang terus membuka sistem perdagangan internasional. Namun inti masalahnya adalah bahwa para pembuat kebijakan di AS secara perlahan dan bertahap kehilangan keyakinan akan kemampuan masyarakat mereka untuk berkompetisi dengan kekuatan ekonomi baru yang tumbuh di China dan India.

Westernisasi Dunia

Barat punya ide yag sangat jelas tentang bagaimana sejarah harus berjalan, ide2 itu terungkap dalam beberapa pidato perayaan. James Barker, yang kemudian menjadi Menteri Pertahanan AS mengungkapkan suasana batin ini ketika berbicara mengenai komunitas baru negara2 demokrasi yang akan “terbentang dari Vancouver sampai Vladivostok”. Ia menyingkapkan banyak hal dalam pernyataanya, Negeri yang tidak disebutkan adalah Jepang.[3] Setidaknya ada tiga cacat fundamental dalam tema2 pandangan triumfalisme Barat yang muncul sejak berakhirnya perang dingin. Pertama adalah keyakinan bahwa Barat telah menang atas Uni Soviet karena nilai2 yang diusungnya. Barat memang nyatanya menang karena kekuatan sistem ekonomi (ekonomi pasar bebas) namun bukan karena sistem politiknya. Kedua, dalam triumfalisme Barat pasca perang dingin adalah keyakinan bahwa semua masyarakat dimanapun tingkat perkembangan ekonomi dan sosial apapun dapat berubah menjadi negara demokrasi liberal hanya dalam waktu semalam. Keyakinan ini didorong oleh cepat dan berhasilnya transisi menuju demokrasi di negara2 Eropa Timur. Ketiga, cacat dalam kejayaan tesis pasca perang dingin adalah perbedaan kultural yang tidak dimasukkan dalam hitungan karena masyarakat demokrasi Barat yakin secara universal bahwa demokrasi dapat diterapkan pada semua masyarakat. Berakhirnya perang dingin membawa sebuah rasa puas diri yang besar dan rasa bangga secara intelektual di banyak pikiran orang Barat, banyak di antaranya yang masih terlihat dalam rencana kebijakan luar negeri yang lebih baru.

Kesimpulan sederhana dari bab ini adalah Barat seharus ikut merayakan dan bukan berduka cita atas momentum sejarah ini. Adalah pelanturan — bahwa dengan berakhirnya perang dingin akhirnya telah mencapai kejayaan abadi. Dan Barat mungkin telah berhasil melampaui imajinasi terliarnya jika March to Modernity akhirnya berhasil. Alih2 mempersepsikan dirinya sebagai satu-satunya kelompok pemangku kepentingan yang bertanggung jawab, Barat hendaknya bergabung dengan milliaran “responsible stakeholder” baru. Hal ini tentu akan membuat dunia lebih stabil dan damai.

II.     Mengapa Asia Sekarang Bangkit?  –Tujuh Pilar Kebijaksanaan Barat-

Di abad pertama masehi, Asia menyumbang hingga 76,3% produk domestik bruto global. Eropa Barat pada waktu ini hanya 10,8%. Di tahun 1000 masehi, kontribusi Eropa Barat pada PDB global adalah 8,7%, sebaliknya Asia turun sedikit 70,3%. Keseimbangan ini mulai bergesar dengan revolusi industri. Di tahun 1820, andil Eropa Barat naik hingga 23,6%, sementara Asia turun sampai 59,2%. Kebangkitan Barat terjadi sangat cepat dalam waktu 200 tahun terakhir. Di hampir sepanjang sejarah yang terekam, Asia, pernah dan telah memberi sumbangan terbesarnya pada ekonomi dunia.[4] Melihat latar belakang sejarah ini, kita semestinya tidak usah heran dengan prediksi yang dibuat oleh penelitian Goldman Sachs BRICs Study, bahwa pada tahun 2050 nanti, tiga dari empat kekuatan ekonomi terbesar dunia akan datang dari Asia dan urutannya adalah China, AS, India dan Jepang.

Ekonomi Pasar Bebas

Masyarakat China sudah jelas merupakan masyarakat yang paling rajin dan ulet di dunia, contohnya adalah suskes etnis China di perantauan di tiap negara yang mereka masuki dibandingkan dengan rendahnya produktivitas orang China di rumahnya sendiri, hal ini memperkuat dugaan Deng Xiaoping (tokoh modernisasi dunia) bahwa China selama ini mengadopsi sistem ekonomi yang salah, yakni cara2 produksi Marxisme-Leninisme. Ironi besar sejarah ekonomi China adalah bahwa China mengalami lompatan besar dan hanya mungkin justru setelah meninggalkan prinsip2 Mao tentang perencanaan terpusat dan memperkenalkan sistem ekonomi pasar bebas. Banyak orang sudah mendengar tentang pertumbuhan ekonomi China yang spektakuler itu, tetapi sedikit saja yang memahami dengan persis ledakan angka pertumbuhan ekonomi China itu. Dampak eksplosif penerapan ekonomi pasar bebas di China seharusnya tidak mengherankan. Setiap masyarakat Asia yang menerapkan ekonomi pasar bebas telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang spektakuler, keuntungan nyata yang didapatkan adalah pengurangan angka kemiskinan.

Sains dan Teknologi

Pembebasan jiwa manusia (human spirit) di Asia juga menjelaskan mengapa orang Asia menyerap dan mengimplementasikan dengan semangat kedua kebijaksanaan Barat, yakni sains dan teknologi. Tetapi kita tahu beberapa alasan mengapa Asia tetap tercecer di belakang, yakni suatu mindset religius yang menolak dengan rasa angkuh dunia materi, yang berakibat kurangnya kepercayaan akan ide “kemajuan” manusia, suatu sikap patuh secara ilmiah kepada otoritas yang berkuasa dan kurangnya kemampuan untuk mengajukan pertanyaan2 kritis. Jurang antara mindset Barat dan Asia ini dianggap akan berlaku abadi selamanya.

Meritokrasi

Prinsip meritokrasi pada dasarnya sederhana, bahwa karena setiap individu di masyarakat adalah sumber daya yang potensial, maka mereka harus diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri dan memberikan kontribusi kepada masyarakat. Selama berabad-abad, masyarakat Asia menghindari pelaksanaan meritokrasi ini. Latar belakang mindset feodal, yang secara bertahap dihancurkan di Eropa pasca- Revolusi Industri, tetap hidup terus di Asia. Di India misalnya tidak masuk akal bahwa seorang anak dari kasta terendah dapat bercita-cita memasuki pendidikan modern dan memainkan peran penting di masyarakat. Akibatnya, jutaan otak berkualitas tinggi tercecer di belakang tak terurus dalam tubuh politik India. Di bagian Asia lain, China belajar dari keruntuhan Uni Soviet. Salah satu pelajaran terpentingnya bahwa fatal mengisi posisi2 kunci di partai dengan fungsionaris yang sudah tua, sudah hampir mati. Orang2 tua ini akan menjadi penghalang untuk perubahan dan peremajaan.

Pragmatisme

Jepang adalah negara Asia pertama yang memodernisasikan diri karena setalah melihat Eropa mengolonisasi hampir seluruh dunia, ia dengan cepat sadar bahwa harus berubah dan menyesuaikan diri. Jepang berhasil mengimplementasikan praktik2 barat karena orang Jepang itu sangat pragmatis. Mereka mendekati tantangan modernisasi Jepang tanpa persepsi ideologis apapun dan rela mempertimbangkan praktik2 Barat dari negeri manapun serta siap untuk mencampur dan memadukannya dalam kebijakan2 dengan cara elektrik. Jepang telah membuat lompatan besar dengan meninggalkan hambatan teologis dan mengadopsi sebuah cara pandang yang modern, liberal dan sekular untuk rela mempelajari apa saja. Seorang pragmatis terbesar dalam sejarah Asia mungkin adalah Deng Xiaoping, definisinya tentang pragmatisme merupakan definisi tebaik untuk terminologi itu : “tidak soal, apakah seekor kucing itu hitam atau putih; asalkan bisa menangkap tikus, kucing baiklah dia itu”. Deng menggunakan definisi yang ringkas dan tajam ini untuk menjustifikasi keputusannya keluar dari kesempitan ideologis komunisme.

Budaya Perdamaian

Ekspektasi pada umumnya atas dua dekade terakhir ini adalah bahwa dengan bangkitnya banyak kekuatan baru. Asia akan diwarnai oleh rivalitas dan konflik, bukan perdamain dan rasa saling memahami. Tidak hanya Asia Timur yang tetap damai selama lebih dari dua dekade, tetapi Asia Timur juga telah melewati ujian tekanan berat yang memicu konflik di kawasan itu. Krisis moneter Asia 1997-1998, cukup sulit untuk menganggap enteng ujian itu. Ekonomi Indonesia turun 15% di tahun 1998, di Korea Selatan pada tahun 1998, penggangguran naik dari sekitar 2,6% menjadi lebih dari 8% dan akan tetap naik. Sejarah mengajarkan bahwa kombinasi antara krisis finansial yang besar dan “semakin banyak kelompok yang bertikai” akan menjadi minuman keras yang mematikan.[5] Jika memang Asia Timur kehilangan keseimbangannya dan menyebarluaskan konflik, potensi ini tentu akan meledak menyusul krisis moneter Asia. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, perdamaian justru terkonsolidasi dan makin mendalam karena Asia Timur telah menyerap pilar kebijaksanaan barat, yaitu budaya damai yang telah mempengaruhi relasi antarnegara2 Barat sejak berakhirnya perang dunia kedua.

Aturan Hukum

Pemahaman barat tentang aturan hukum, di dalamya semua manusia wajib diperlakukan setara di bawah hukum dan semua warga negara wajib taat pada hukum yang sama memang berlawanan dengan butir2 inti pemikiran Asia. Mayoritas orang Asia selama berabad-abad mengira bahwa kelas yang berkuasa, terutama anggota kerajaan dan aristokrasi, berdiri di atas hukum. Dalam pemikiran China tradisional, hukum hanyalah alat penguasa untuk mengatur yang diperintah. Kaisar (atau pemimpin partai) sendiri berdiri di atas hukum, dan setiap keputusan atau keinginannya adalah hukum itu sendiri. Sebaliknya dalam pikiran Barat, aturan hukum justru ingin melindungi individu warga negara dari penggunaan kekuasan sewenang-wenang oleh pemerintah. Inilah implementasi konkret nilai keadilan yang diharapkan. Simbol yang terkenal tentang seorang sosok yang dengan mata tertutup memegang timbangan keadilan, mengungkapkan aspirasi terdalam masyarakat Barat ini untuk menciptakan suatu masyarakat yang adil, di dalamnya hukum berlaku sama untuk semua orang. Hampir semua warga Asia sekarang sadar bahwa menaati aturan hukum seharusnya sealamiah menaati aturan berlalu lintas. Jika mereka tidak menaatinya, mereka akan gagal membangun ekonomi modern, yang memang baru dapat berfungsi jika hukum menjadi dasar, di atasnya masyarakat membuat perjanjian ini dapat secara fair dan efisien ditegakkan.

Pendidikan

Sepanjang sejarah, semua peradaban besar telah memahami arti penting nilai pendidikan. Bahkan puncak setiap peradaban besar manusia sering dihubungkan dengan perkembangan pusat2 studi. Hal ini telihat dalam tradisi Yunani Kuno, Muslim Arab di zaman Kalifah Abbasia, India di zaman Raja Akbar dan China di era Dinasti Tang. Tidak mengherankan, di samping keunggulan Barat atas bebrapa abad terakhir, universitas2 besar terbesar juga ditemukan di Barat yang memiliki keunikan, yaitu karena misi mereka tidak seeksklusif sebagaimana arahan Barat, sebaliknya mereka melihat diri sebagai penjaga pengetahuan2 lama dan mengembangkan bidang2 wilayah pengkajian baru untuk semua umat manusia. India mungkin mendapat manfaat lebih besar ketimbang China lantaran terbukanya pendidikan di Barat (khususnya AS). Harus diakui, India adalah negara terdepan dalam soal pengiriman mahasiswa belajar ke AS dengan 76,503% di tahun 2005-2006, diikuti China, Korea dan Jepang. Mereka yang pulang setelah tamat inilah yang memberi nilai tambah dan menjadi ragi bagi kebangkitan Asia. Ketika para pelajar ini pulang, mereka tidak hanya mempelajari keterampilam teknis keahlian saja yang mereka pelajari di AS, tetapi juga seluruh etos AS, yaitu suatu pandangan optimistik terhadap kehidupan dan keyakinan bahwa masyarakat yang besar dapat diciptakan secara intensional. Keyakinan besar AS di tahun 1960-an bahwa sebuah generasi yang terbaik dan paling cerdaslah yang dapat mengubah masyarakat ternyata telah menyebar luas dan mempengaruhi dinamika psikologis Asia,

III.       Mengapa Barat Tidak Ikut Merayakan?      Apa itu “Barat”?

Secara teritorial, kumpulan negara2 di Amerika Utara (AS dan Kanada), Eropa (27 negara Uni Eropa), Australia dan Selandia Baru, dengan penuh kesadaran mendefinifikan diri mereka sebagai anggota dari komunitas masyarakat Barat, Sedangkan dimensi filosofis dari Barat itu sendiri sulit untuk didefinisikan, apakah Barat itu sinonim dari identitas Yahudi-Kristen, praktis semua negara2 barat sangat diresapi oleh tradisi Yahudi-Krsten (bukan Buddhis, Hindu atau Islam). Namun dalam waktu bersamaan, banyak negara barat sangat tampil sekular, terutama di Eropa. Mereka sangat suka mencari akar2 filosofis budaya mereka pada tradisi intelektual besar Yunani Kuno dan Romawi. Filsafat Barat juga mengembangkan pengetahuan manusia sampai tingkat yang tertinggi. Sains dan teknologi modern umumnya adalah pemberian dari Barat. Sebernarnya semua masyarakat lain sedikit kesulitan untuk meminimum pelajaran2 dan kebijaksanaan dari sumur2 di Barat yang dalam.

Tatanan Dunia Pasca-1945

Kepentingan Barat meletakkan kebijakan Barat ke arah yang lain. Tata dunia tahun 1945, sekalipun baik dan cocok untuk era itu, tidak berarti harus tetap kokoh berdiri dan tak berubah. Tata dunia masa itu tidak dimaksudkan untuk membeku dan mengabadikan hierarki tertentu bangsa2 di forum pengambilan keputusan global. Contohnya adalah Dewan Keamanan PBB, dimana badan ini memegang tangggung jawab tertinggi untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional. Tetapi, lima kursi anggota tetapnya yang memgang hak veto disediakan bagi para pemenang perang dunia kedua, yaitu AS, Uni Soviet (Rusia), Inggris, Perancis dan China. 60 tahun kemudian, muncul kekuatan2 baru, namun Dewan Keamanan masih tetap sama saja. Paradoks besar abad ke-21 adalah bahwa tata dunia yang tidak demokratis justru mati-matian dipertahankan oleh negara2 bangsa yang sangat demokratis di dunia. Negara2 Barat di rumah mereka sendiri, tentu tidak akan pernah mengizinkan suatu minoritas penduduk membuat keputusan2 yang wajib ditaati oleh mayoritas penduduk. Mengapa relitas ini tidak begitu terlihat jelas, alasannya karena sifat dominasi Barat itu terhadap tatanan global tidak sepenuhnya dipahami orang. Banyak faktor ikut bermain, kadang kombinasi dari berbagai faktor, sehingga Barat tetap mencengkam kuat proses2 yang terjadi di dalam lembaga2 global.

Dominasi Barat atas Organisasi-organisasi Internasional

Khadafy menggambarkan bagaimana kekuatan2 Barat menunggangi organisasi2 internasional, terutama organisasi sepenting Dewan Keamanan PBB dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memiliki kemampuan istimewa untuk menjatuhkan sanksi kepada negara2 kuat. Semua organisasi multinasional, terutama yang menginduk ke PBB, awalnya dirancang untuk melayani kepentingan 6,5 milliar penduduk dunia. Itu yang dideklarasikan Piagam PBB sebagai misi dasarnya. Ketika kepentingan Barat sejalan dengan kepentingan umat manusia, misi itu terpenuhi dan bila tidak sejalan, Barat selalu menang. Peran dan tujuan organisasi2 multilateral itu telah diselewengkan oleh kekuatan Barat. Ada sebab2 fundamental dan mendalam dari kebutaan Barat ini, sebab paling menonjol adalah karena keyakinan bahwa nilai2 dan kepentingan Barat adalah nilai2 dan kepentingan universal.

Dominasi Barat terhadap Ekonomi Global

The Economist adalah juga sebuah kesaksian mingguan peran Barat terhadap ekonomi global. Pada akhir perang dunia kedua, kontribusi AS pada global produk domestik bruto hampir 50%. Kontribusi ini turun perlahan-lahan secara relatif (tidak absolut) ketika negara2 Eropa Pulih dari puing2 Perang Dunia Kedua. Di tahun 2005, Barat naik sedikit dengan 13,4% dari penduduk dunia dan menguasai 62,6% PDB dunia. Kemampuan ekonomi inilah yang memampukan Barat secara signifikan untuk memperkuat investasinya dalam kemampuan militer. Dominasi ekonomi Barat itu makn diperkuat lagi jika anda melihat cara pandang Jepang. Meski lokasi geografisnya di Asia, namun fungsinya bukan sebuah negara Asia melainkan sebuah kekuatan ekonomi Barat juga. Jepang memang bercita-cita untuk masuk ke semua klub2 kunci Eropa, termasuk organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD-di mana Jepang selama bertahun-tahun merupakan satu-satunya anggota dari Asia), Komisi Trilateral dan G-7.

IV.        Dewesternisasi: Kembalinya Sejarah      Antitesis untuk berakhirnya sejarah Fukuyama—

Di puncak kekuasaannya, ketika pengaruh Barat merebak ke seluruh pojok2 dunia, Barat sebenarrnya membungkus bola dunia ini dengan beberapa lapisan pengaruhnya. Luasnya cengkeraman Barat ini membuat dunia yakin bahwa hanya ada satu cara untuk maju. Yukichi Fukuzawa, seorang intelektual paling tercerahkan di era Meiji, berkata pada temannya sesama orang Jepang, “oleh karena itu, langkah kebijakan kita yang harus segera diambil adalah tidak kehilangan waktu saat menunggu datangnya pencerahan pada negara2 tetangga kita untuk bergabung dengan mereka dalam membangun Asia, lebih baik kita berangkat lebih awal meninggalkan barisan Asia dan memasukkan diri pada Negara-negara beradab di Barat”.

China

China telah berjalan semakin jauh dan semakin cepat. Beberapa intelektual China mengakui secara terbuka sampai sejauh mana pikiran2 mereka dikolonisasi oleh Barat. Berakhirnya mitos superioritas Barat menampilkan dimensi proses dewesternisasi di China. Tetapi ada dimensi lain juga, salah satu alasan lain itu yang memunculkan jarak antara wacana intelektual Barat dan China tentang negeri China adalah ketidakmampuan banyak orang di Barat untuk memahami realitas2 baru China. Kebangkitan peradaban besar China sedang terjadi sekarang, banyak orang di Barat bahkan tidak dapat memahaminya karena dalam pandangan mereka sebuah masyarakat “yang tidak bebas” seperti China tidak mungkin bergerak maju. Para pemimpin China sadar bahwa seluruh upaya mereka untuk memodernisasi China dan membawanya ke dalam barisan negara maju dapat gagal, jika mereka tidak memperkenalkan keutamaan kebebasan berekspresi ke dalam bangunan politik mereka. Secara keseluruhan adalah bijak bagi Barat untuk berhenti menarik garis tajam antara masyarakat yang “bebas” dan “tidak bebas”. Rakyat China tidak pernah lebih bebas secara politik daripada sebelumnya. Bangkitnya peradaban China sekarangn berarti menjadi terbuka dan kosmopolitan, tidak tertutup dan mengasingkan diri. Persiss, sebuah peradaban China yang percaya diri tentulah akan tampil lebih terbuka dan kosmopolitan, bukan malah mengidap rasa tidak aman seperti yang dialami masyarakat Eropa sekarang. Jadi, China sekarang juga sedang melakukan sebuah pekerjaan besar yakni memperkenalkan pokok2 budaya Barat pada penduduknya.

Dunia Islam

Jika alam pikir Barat merasa kesulitan untuk memahami peradaban China yang kini sedang muncul di era keterbukaan dan kosmopolitan, pada kenyataannya sekarang, juga tidak mungkin bagi alam pikir Barat untuk memahami peradaban Islam yang muncul kembali sebagai sebuah peradaban yang terbuka dan kosmopolitan. Namun sebuah proses yang serupa dengan yang terjadi di China tampaknya sedang ditiru di banyak masyarakat Islam. Identitas budaya tidaklah statis, selalu berkembang sepanjang waktu sekalipun beberapa akar-akarnya masih terancap dalam. Ada alasan bagi jiwa Islam untuk sedikit terusik. Di satu pihak dengan ukuran religiositas apa pun, kaum muslim barangkali memiliki komitmen yang lebih dalam pada agama mereka daripada komitmen mayoritas orang Kristen sekarang. Barat telah lama meyakini bahwa sebuah modernitas tidak lain adalah membuat masyarakat menjadi lebih sekular dan kurang religius. Dalam dunia Islam, komunikasi modern terutama media modern (termasuk Al Jazeera) telah membuat kaum Muslim menjadi lebih sadar akan pendertiaan kaum Muslim lain sehingga mempertajam identitas religius mereka. Tumbuhnya keyakinan di kalangan Muslim tentang niat buruk Barat terhadap dunia Islam dengan kuat didukung oleh aksi2 Barat sendiri sejak berakhirnya perang dingin. Banyak kalangan Muslim sekarang percaya bahwa Barat, terlepas dari rasa hormatnya dari kesucian hidup manusia ternyata tidak memberi perhatian yang cukup ketika penduduk Muslim tak berdosa tewas dibunuh. Disini Barat terutama AS kelihatan sangat tidak terganggu batinnya dengan hilangnya banyak warga Muslim di Timur Tengah. Hal ini makin memperkuat anggapan bahwa kaum Muslim di mata Barat, nyawa seorang Muslim tidak terlalu menjadi masalah. Dewesternisasi sedang terjadi makin cepat dan makin dalam di dunia Islam yang pada gilirannya akan membuka banyak ruang kosong secara kultural dan politik. Namun kenyataannya, kekuatan yang sedang bangkit di dunia Islam bukanlah fundamentalis, melainkan kekuatan modernisasi yang sedang melanda Asia dan nantinya juga akan merasuki masyarakat Muslim juga.

India

India menduduki tempat khusus dalam imajinasi Barat. Peradaban China dan Islam dipandang asing dan jauh dari Barat. Tapi kontrasnya, banyak orang Barat yang berpikir positif tentang kebudayaan India dan peradabannya. Pandangan yang positif tentang India akhirnya melahirkan harapan bahwa apabila nanti India akhirnya tampil sebagai kekuatan besar, India akan bergabung dengan komunitas bangsa Eropa, karena India dilihat sebagai tambahan alamiah bagi komunitas Barat. India akan menjadi kekuatan terbesar Asia ketiga setelah Jepang dan China, ini adalah anggapan Barat. Mayoritas intelektual India tidak percaya bahwa Barat sudah benar bila menempatkan diri sebagai penjaga moral. Barat tak terlihat lagi sebagai penjaga nilai2 tertinggi peradaban manusia. India dapat memotivasi Barat dari front yang lain, jika Barat meyakini bahwa meredupnya secara progsif era Barat dalam urusan global akan berimplikasi tergelincirnya moral dalam tatanan manusia adalah melegakan bila dapat ditemukan beberapa nilai yang dipersepsikan sebagai berasal dari Barat, sebetulnya punya asal usul dari Timur. Kemampuan India untuk menerima kebudayaan2 dan peradaban lain mungkin suatu ketika akan mendefinisikan peran India dalam hubungan Timur-Barat.

Hasil dari dewesternisasi yang kuat ini adalah bahwa dunia akan bergerak ke arah yang positif dimana banyak peradaban kuno yang kaya lahir kembali, sambil menambahkan kekayaan kultural dunia dan mendorong naluri2 baru toleransi kebudayaan untuk saling memahami. Semua ini dapat mengangkat kondisi umat manusia ke tingkat yang jauh lebih tinggi daripada yang pernah dialami abad2 sebelumnya.

V.        Inkompentensi Barat, Kompentensi Asia?    –Asia Siap Mengemban Kepemimpinan Global—

Pada bab ini akan menguji sejauh mana pengalaman Barat berhadapan dengan empat tantangan. Pada front geopolitik, pikiran Barat sangat terobsesi dengan ancaman terorisme Islam. Di front ekonomi kita boleh saksikan untuk pertama kali sejak Perang Dunia Kedua, kandasnya proses negosiasi2 global, putaran Doha dan masalah pemanasan global juga salah dalam penanganannya. A Ketika Barat hanya melihat dirinya sendiri sebagai sumber solusi bukan sumber masalah, maka rakyat disana pun jarang mau melihat “ke dalam”, mencari alasan mengapa masalah global ini salah dalam penanganannya.

Barat dan Timur Tengah

Kawasan yang sangat oleh kebijakan Barat dianggap sangat rawan adalah Timur Tengah. Kawasan ini juga paling berbahaya di dunia. Sedikit saja muncul gejolak di Timur Tengah, tidak hanya mempengaruhi 7 juta orang Israel dan 3,9 juta orang Palestina, tetapi juga kehidupan 200 juta lebih orang Arab dan 1,2 milliar umat Muslim dan komunitas2 di mana mereka hidup. Keputusan AS dan Inggris menginvasi dan menduduki Irak pada Maret 2003 akan turun bobotnya sebbagai kesalahan yang mengguncangkan salah satu tindakan bodoh terbesar di era kita sekarang, beberapa bencana terakhir adalah bencana multidimensional. Di Irak tahun 2003, ideologi mengempaskan akal sehat. Padahal akal sehatlah yang semestinya menentukan pergerakan militer dan pelayanan sipil. Tragedi Timur Tengah itu adalah bahwa perdamaian sebenarnya masih dalam jangkauan kalau mau. Tragedi jalan buntu Timur Tengah yang nyata sekarang ini adalah bahwa korban2 jangka panjang kegagalan AS di kawasan ini adalah rakyat Israel. Jika mereka gagal menangkap momentum unik ini untuk mencapai “solusi dua negara” dengan Palestina yang telah didukung oleh negara2 Arab Sunni, Israel akan dikutuk untuk terus tenggelam dalam konflik jangka panjang yang destruktif dengan dunia Islam. Barat telah gagal mencapai tujuan2 kebijakannya yang paling tinggi di Timur Tengah. Satu-satunya kebijakan yang berhasil hanyalah mengamankan suplai minyak ke Barat. Kebijakan Barat selama ini sangat hati2 dan sabar dalam melindungi kepentingan vital ini. Itulah kenapa AS dan Barat tidak membuat upaya apapun untuku mengekspor demokrasi ke Arab Saudi atau ke negeri teluk lainnya. Masalah fundamentalnya adalah strategi Barat terhadap dunia Islam itu ternyata tidak ada strategi. Karena itu, terus menerus tidak kompeten.

Barat dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir

Tantangan untuk menjawab ancaman tersebar-luasnya (proliferasi) “senjata pemusnah massal” adalah sesuatu yang harus kita sepakati. Namun untuk senjata nuklir lain lagi ceritanya. Perjanjian Non-Ploriferasi Nuklir yang pada suatu masa dianggap sebagai langkah maju menuju perdamaian internasional, secara legal hidup tetapi secara spiritual mati. NPT pada dasarnya sudah mati pada waktu India dan Pakistan meledakkan senjata nuklir mereka di Tahun 1998. Sebuah kesalahan besar yang dibuat oleh negara2 pemilik senjata nuklir adalah menganggap sepi persoalan keamanan bahwa India dan negara2 besar lainnya mampu memiliki juga senjata nuklir. Efektif sekarang ini ada 5 negara pemilik senjata nuklir, 3 negara semi-legitimate memiliki senjata nuklir (Israel, India dan Pakistan) dan 2 negara berkembang yang memiliki senjata nuklir (Korea Utara dan Iran). Jadi kontras dengan apa yang diinginkan Barat agar dipercayai oleh sisa dunia, sumber utama ide proliferasi nuklir adalah negara pemilik senjata nuklir itu sendir, terutama AS dan Rusia yang masih menyimpan dan terus mengembangkan ribuan pucuk hulu ledak nuklir. Jadi, satu langkah besar Barat yang perlu diambil demi pemahamannya yang lebih baik tentang dunia adalah membuah perspektif hitam-putih dan mulai memahami bahwa karena mayoritas penduduk dunia sedang mngubah diri dari sekadar objek sejarah menjadi sumber sejarah, dunia tentu dan niscaya menjadi lebih kompleks.

Barat dan Iran

Iran adalah salah satu masyarakat yang paling kompleks di dunia. Di alam pikir Barat, satu-satunya citra tentang Iran hanyalah negatif, yakni sebuah negeri yang tertindas oleh rezim teokratis yang keras, negara yang didedikasikan untuk destabilisasi tetangganya, negeri yang ingin menjadi pemilik senjata nuklir yang ugal-ugalan seperti Korea Utara. Iran memang dapat diinvasi, akan tetapi invasi militer itu akan mendatangkan petaka. Jika invasi ke Irak saja telah menguras jiwa dan raga tentara AS, invasi ke Iran pasti akan lebih parah lagi akibatnya. Sebab Iran mempunyai kemampuan lebih kuat untuk menerima sakit dan penderitaan. Retorika para pemimpin Iran yang bersuara keras, terutama presidennya Ahmadinejad, memang telah membuat suit para diplomat Barat untuk berbicara dengan Iran. AS dan Iran adalah masyarakat yang kompleks. Sistem politik di kedua negara itu punya spektrum yang luas. Di AS, rentang spektrum itu bergerak dari republikan sayap kanan hingga demokrat sayap kiri. Di Iran, rentangnya dari mullah2 konservatif ekstrem hingga kaum modernis moderat.

Belajar dari Kompetensi Asia

Kasus Iran dengan sangat jelas menunjukkan pertimbangan ideologis dapat mendistorsi proses pembuatan keputusan di Barat. Ini hanyalah faktor tambahan yang berkontribusi pada pola kebijakan luar negeri Barat yang makin laku dianut, meski pada dasarnya gagal. Sudah waktunya bagi Barat untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa bangsa lain dan komunitas lain juga sekompeten Barat, jika tidak mau dikatakan lebih kompeten dalam menjawab tantangan global dan regional. China sudah belajar keras dari kesalahan2 yang dibuat kekuatan besar lainnya. Setelah gagal dalam permainan kekuatan besar di abad ke-19 dan diparuh pertama abad ke-20, China tidak diperhitungkan untuk tampil sebagai pemain geo-politik yang paling efektif dan sangat lihai di abad ke-21, tetapi itulah yang terjadi. Itulah kenapa asumsi2 Barat yang terus mereka pegang tidak hilang2 bahwa negara2 maju di Barat secara alamiah dapat melakukan pekerjaan lebih baik dalam menjawab tantangan2 global, agaknya harus ditinjau ulang. Sebuah penilaian objektif menunjukkan bahwa kepemimpinan Asia juga mampu menghasilkan tatanan dunia yang lebih stabil.

VI.        Prasyarat Kepemimpinan Global: Prinsip-Prinsip, Kemitraan dan Pragmatisme

Prinsip-prinsip Baru Tatanan Global

Hampir semua masyarakat modern menerapkan langsung ataupun tidak langsung prinsip kunci Barat tentang pemerintahan dalam negeri. Tantangan di abad ke-21 adalah bagaimana menerapkan secara global dalam cara yang bijaksana. Prinsip yang menjadi dasar pemerintahan di masyarakat Barat adalah demokrasi. Dan premis fundamental atas demokrasi didasarkan adalah bahwa setiap orang di dalam masyarakat itu adalah pemangku kepentingan yang sejajar. Cara ini menghasilkan stabilitas dan tatanan yang berjangka panjang di Barat. Paradoksnya disini adalah bahwa untuk membuat dunia ini berjalan melalui komunitas negara2 demokrasi pada dasarnya adalah gagasan yang tidak demokratis, jika penduduk di dalam komunitas tersebut merepresentasikan kurang dari separuh penduduk dunia. Gagasan ini sudah dicatat baik dalam teori maupun prakteknya. Barat paham betul bahwa sejumlah ruang2 politik dan ekonomi yang ia tempati di dunia ini telah menyempit. Konsekuensi logisnya adalah bahwa dominasi Barat atas beberapa lembaga kunci global juga harus dikurangi, tidak ada alasan lagi banyak negara Barat untuk terus menikmatinya. Semua fakta ini seperti menyarankan solusi sederhana : bahwa kita wajib mengadopsi proses seleksi yang transparan dan bersih, terhadap pucuk pimpinan organisasi2 dunia di dalamnya meritokrasi dan bukan nasionalitas menjadi kunci pertimbangan.

Kemitraan dan Pragmatisme

Penerapan dari prinsip Barat akan berjalan seiring dengan terciptanya tata dunia yang lebih stabil. Namun Barat tidak akan menerapkannya untuk mereka sendiri. Barat hanya mewakili 12% penduduk dunia, mereka harus belajar bekerja sama dengan 88% sisa penduduk dunia untuk mencapai tujuan stabilitas global. Di sinilah tempatnya di mana Barat harus menemukan dasar2 baru. Kemitraan Timur-Barat akan lebih sulit tercipta dan sulit bertahan lama karena perbedaan2 kultural. Salah satu kunci buku ini ialah merestorasi optimisme Barat tentang masa depan dunia kita. Pikiran2 Barat dapat membuat satu perubahan sederhana dalam dirinya sendiri untuk menjadi lebih optimis, yaitu mereka perlu membuang semua beban ideologis di bagasi mereka yang terakumulasi selama beberapa era triumfalisme Barat. Dan mereka harus berhenti mempercayai bahwa mereka dapat menata ulang dunia ini seturut gambaran mereka sendiri, dunia sekarang tida dapat lagi diwesternalisasikan. Kontribusi terbesar Asia kepada sejarah telah memperlihatkan bagaimana March to Modernity dapat menciptakan dunia yang lebih stabil. Keputusan pragmatis besar pertama yang perlu dilakukan Barat adalah meninggalkan upaya2 mengisolasi diri ataupun menutup ruang gerak masyarakat lain. Sebab setiap isolasi akan menghambat masuknya March to Modernity. Di awal abad ke-21 ini, ketika kita memasuki salah satu periode perubahan yang aling intensif yang dialami umat manusia, AS sedang meninggalkan unsur pragmatis dalam dirinya justru ketika itu sedang dibutuhkan. Kita sedang memasuki wilayah yang sangat tidak pasti secara ekonomi dan politik. Adalah bodoh bila kita beranggapan bahwa asumsi2 ideologis Barat abad ke-19 dan 20 akan mampu bekerja dengan baik di abad ke-21. Lebih bijaksana bila pikiran kita tetap terbuka dan memeriksa setiap asumsi2 ideologi yang tertanam di dalam pikiran kita. Pragmatisme adalah “the best guiding spirit” yang dapat kita andalkan saat kita menjelajahi abad baru ini.


[1] Rajesh Shukla, Ekonom dan peneliti senior the National Council for Applied Economic Research

[2] Shashi Tharoor, Penulis di India

[3] Satu-satunya anggota klub Barat dari Asia (yang diizinkan masuk OECD dan G-7)

[4] Angus Maddison, The World Economy: A Millineal Perspective (Washington, DC: Brookings Institute Press, 2007)

[5] Kutipan kalimat Betts

Advertisements